Bank Indonesia Semarang Buat Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi

Bank Indonesia Semarang meluncurkan Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi yang dapat diakses dalam jaringan (online) atau melalui pesan singkat. Sistem ini diharapkan dapat meminimalkan spekulasi dan meningkatkan daya tawar petani.

Pemimpin Bank Indonesia Semarang Joni Swastanto dalam peluncuran Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SIHATI) kedua, Selasa (26/3/2013), di kota Semarang, Jawa Tengah, menjelaskan, selama ini banyak terjadi informasi yang asimetris. Hal tersebut membuka peluang spekulasi harga dan menyebabkan gejolak harga di pasaran.

Melalui sistem ini, diharapkan petani memiliki daya tawar atas hasil produksi yang ditawarkannya. Untuk itu diperlukan informasi yang tepat dan akurat mengenai harga komoditas dari berbagai wilayah.

“Kami sadari kemanfaatan dan keterkinian data menjadi kunci utama sistem ini. Karena itu, kami membutuhkan kerja sama dari instansi-instansi terkait di daerah untuk memasukan data harga terkini,” kata Joni.

Joni mencontohkan kasus tingginya harga bawang merah dan putih beberapa waktu belakangan. Gejolak harga yang tidak terkendali akibat informasi yang simpang siur turut mempengaruhi tingginya inflasi di Jateng pada Februari lalu.

“Dari 10 komoditas penyumbang inflasi, enam diantaranya adalah komoditas pangan, termasuk bumbu-bumbuan yang didalamnya termasuk bawang dan cabai. Karena itu, kita harus berhati-hati menjaga suplai agar harga tetap stabil dan tidak menyebabkan inflasi. Apalagi Jateng termasuk wilayah penghasil bawang merah dan cabai merah,” ujar Joni.

Guru Besar Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dwidjono Hadi Darwanto mengungkapkan, kenaikan harga bahan makanan tidak berkolerasi dengan peningkatan kesejahteraan petani. Hal itu disebabkan kenaikan harga di tingkat petani akan segera tertransformasi ke pelaku pasar, tetapi kenaikan harga di tingkat konsumen belum tentu tertransformasi ke tingkat petani.

“Fenomena informasi yang asimetris antara petani dan pelaku pasar memang sangat berpengaruh. Oleh karena itu, ketersediaan informasi menjadi sangat penting bagi petani. Meski demikian, data yang diajukan harus akurat dan dapat diandalkan,” kata Dwidjono.

Sementara itu, di Padang, Sumbar, harga cabai di Pasar Raya Padang tercatat Rp 18.000 per kg, turun dibandingkan harga sebelumnya. Seorang penjual cabai mengatakan dua hari sebelumnya harga cabai merah mencapai Rp 22.000 per kg. Penurunan ini terkait dengan pasokan cabai merah yang relatif melimpah.

Di Malang, Jatim, harga cabai terus merangkak naik. Harga cabai merah mencapai Rp 40.000 per kg untuk pasaran retail. Kenaikan ini akibat pasokan yang berkurang dari sentra-sentra sekitar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s